 Blog For Free!
Archives
Home
2007 April
2006 December
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images
Sponsored
Blog
|
| Apa Pantas Berharap Surga? |
| 07.07.06 (10:42 am) [edit] |
|
Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek pula... Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, Dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan:..... "Kalau tidak terlambat" atau "Asal tak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap.....Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika azan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktiviti ....menuju sumber panggilan, .... kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh.... di atas sajadah-sajadah penuh titisan air mata.
Baca Qur'an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah .....ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka .... untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, ......tak melanjutkan bacaannya ketika mencuba menggali makna terdalam .... dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan titis air mata.Setiap titis yang akan menjadi saksi di hadapan Allah .....bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah ... dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudahlah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, ....bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, .....tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal remeh temeh, tapi permusuhan berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel...setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya .....kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun ...selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan ... dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah?Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat ......masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan?Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu... hingga kita baru merasa benar-benar memerluk an kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan. .....
Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan orang tua ..... ketika Aidil Fitri yang baru berlalu ....??? Apakah hari itu....hanya hari biasa yang dibiarkan berlalu tanpa makna.........???Apakah siang harinya....kita sudah mengantuk....dan akhirnya tertidur lelap...? Apakah kita merasa sulit tuk meneteskan air mata...???atau bahkan kita menganggap cengeng......??? sampai sekeras itukah hati kita....???Ya...Allah ....ya Rabb-ku......jangan Kau paling hati kami menjadi hati yg keras......, sehingga menitiskan air matapun susah.......merasa bersih......merasa suci....merasa tak bersalah......merasa tak memerlukan orang lain...... merasa modernis.....dan visionis......... Padahal dibalik cermin masa depan yang kami banggakan..... terlukis bayang hampa tanpa makna.....dan kebahagiaan semua penuh ragu..... Astaghfirullaah ......Yaa Allah...ampunilah segenap khilaf kami, Amin Ya Robbal Alamin.
|
|
|
| |
| Dilema Malas Sembahyang |
| 07.07.06 (10:01 am) [edit] |
Apasal laa, aku belum terfikir nak bentang sejadah, Hidup senang rezeki datang melimpah, Nak dirikan sembahyang, rakan baik setan suruh lengah-lengah, Allah tarik nikmatku sampai nangis keluar air mata darah barulah padah.
Apasal laa aku malas sembahyang, Allah kasi aku jasad siap dengan bayang-bayang, Bukan ke lebih baik daripada tiang, Berdiri tanpa roh malam dan siang.
Apasal laa aku malas sembahyang, Kerja dah best keluarga pun dah senang, Negara aman damai tak lagi hidup berdagang, Takkan 5 minit 5 waktu aku tak boleh nak luang.
Apasal laa aku malas sembahyang, Allah kasi otak supaya aku tak bangang, Allah kasi ilmu boleh fikir susah senang, Allah kasi nikmat kenapalah aku tak kenang,
Apasal laa aku malas sembahyang, Tengok TV, main bola aku sanggup sampai petang, Beli tiket konsert, bayar time shopping aku sanggup beratur panjang, Ingat masuk syurga masuk neraka boleh main hutang-hutang?!!
Apasal laa aku malas sembahyang, Aku kena ingat umur kita bukannya panjang, Pagi sihat entah petang nanti dah kejang, Nanti dalam kubur kena balun sorang-sorang.
Apasal laa aku malas sembahyang, Seksa neraka cubalah aku bayang, Perjalanan akhirat memang terlalu panjang, Janji Allah Taala akan tertunai tak siapa boleh halang!!!
|
|
|
| |
| Aku cari Husnul Khotimah |
| 07.07.06 (9:52 am) [edit] |
"Husnul khotimah" maksudnya kesudahan yg baik. Ia adalah impian saya dan mungkin menjadi impian setiap muslim. Saya katakan ‘mungkin’ kerana ramai juga orang Islam yang saya temui , tidak meletakkan matlamat hidupnya untuk mencapai khusnul khotimah. Seperti kita maklum dalam mengharungi hidup ini kita tak lepas dari dugaan, cobaan dan ujian. Semasa menghadapi dugaan kita mungkin dalam keadaan tidak bersedia, tidak berilmu dan yang pasti kita berada dalam keadaan ‘tertekan’ iaitu tekanan perasaan.
Kebiasaannya dalam keadaan sedemikian akal gagal dikawal dengan sempurna, atau kita lemah dalam mengimbangi keadaan menyebabkan adakalanya tindakan kita di luar dugaan, menyebabkan kita jadi kufur nikmat, dan akhirnya terpalit dosa. Tetapi sebagai muslim kita bertuhankan Allah s.w.t, berpandukan kepada kitab al-qur’an dan kita mengambil Nabi s.a.w. sebagai panduan dan ikutan. Alhamdulillah, syukur kerana dengan adanya keyakinan kepada Allah s.w.t itulah kita kembali memautkan harapan kepada-Nya . Allah s.w.t maha pengasih dan penyayang. Allah menyukai hamba-Nya yang insaf dan segera bertaubat. Firman Allah s.w.t bermaksud” Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan Taubat Nasuha, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, pada hari Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya; cahaya (iman dan amal soleh) mereka, bergerak cepat di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka (semasa mereka berjalan); mereka berkata (ketika orang-orang munafik meraba-raba dalam gelap-gelita): Wahai Tuhan kami! Sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan limpahkanlah keampunan kepada kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. [66:8] Ayuhlah kita buatkan satu azam, mohon kepada Allah s.w.t pada setiap selepas solat dan pada bila-bila masa, agar Allah kurniakan kita khusnul khotimah. Tanda-tanda husnul khotimah
1.Mengucapkan kalimat tauhid ketika akan meninggal,Rasulullah bersabda”Barangsiap a akir perkataannya La ilaha illallah, maka ia akan masuk surga.”
2.Mati syahid dalam menegakkan kalimatullah. Dalam surat Ali Imran ayat : 169 dijelaskan “Dan janganlah engkau sangka orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Allah , diberi rezeki”.
3. Orang yang sedang Ihram. Rasulullah berkomentar ketika melihat salah sorang sahabatnya meninggal karena jatuh dari untanya takala ia ihram, “Mandikanlah ia, dan kafanilah dengan pakaian ihramnya, jangan ditutup kepalanya sesungguhnya ia akan bangkit dalam keadaan ‘mulabbiyan (dalam keadaan mengucapkan allahuma labbaik)”.
4.Akhir dari perbuatannya dalam rangka mentaati Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Barang siapa mengucapkan La illaha illallah kerana mengharapkan keridhoan Allah dan detik-detik akhir hayatnya dalam kondisi seperti itu, maka ia akan masuk surga. Dan barang siapa saum karena mengharapkan ridho Allah, kemudian ia meninggal dalam kondisi seperti itu, maka ia akan masuk surga. Dan barang siapa bersedekah karena mengharapkan ridho Allah, kemudian ia meninggal dalam kondisi seperti itu, maka ia akan masuk surga.”
5.Meninggal dalam keadaan mempertahankan ad Dien, harta, keluarga dan kehormatanMisalnya seorang muslim yang hendak diperkosa oleh seorang penjahat, ia berusaha mempertahankan kehormatan dirinya hingga ia mati dibunuh penjahat tersebut, maka insya Allah matinya dalam keadaan husnul khatimah.
6. Menginggal dalam kesadaran pada saat ditimpa penyakit.Apabila seorang muslim atau muslimah dicoba Allah dengan memberinya penyakit dan ia sadar sampai menemukan ajalnya, maka ia juga mendapat husnul khatimah. Selama ia taat pada Allah dan Rasul-Nya, maka meninggalnya Insya Allah dalam keadaan husnul khatimah.
7. Meninggal pada malam Jum’at atau siangnya.Mudah-mudahan Allah memberikan kita kurnia husnul khatimah, sebagaimana do’a yang selalu kita panjatkan pada-Nya. “Ya Allah kami mohon pada-Mu husnul khotimah, kami berlindung pada-Mu dari su’ul khotimah dan seburuk-buruknya pembalasan. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amal kami pada akhirnya dan sebaik-baik hari kami adalah hari pada saat berjumpa dengan-Mu. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau beri kurnia pada mereka di surga dan di sisi-Mu. Amin Ya Rabbana…
|
|
|
|
| |
| Balang Mayonis dan 2 Cawan Kopi |
| 07.03.06 (10:53 am) [edit] |
|
Di dalam sebuah kelas falsafah, seorang profesor berdiri di hadapan dewan kuliah, meja di hadapannya terdapat beberapa barangan. Tanpa sepatah perkataan, kelas bermula dengan beliau mengambil sebuah balang mayonis yang besar dan mengisinya dengan bola golf.
Dia kemudian bertanya kepada para pelajarnya, adakah balang tersebut penuh, dan pelajarnya menjawab "ya!".
Profesor kemudian mengambil sekotak batu kerikil halus dan menuangkannya ke dalam balang yang telah dipenuhi bola golf tadi, lantas menggoncang balang tersebut dengan lembut. Bebatu kerikil mengisi ruangan kosong di antara bola-bola golf. Sekali lagi dia bertanya akan pelajarnya sama ada balang tersebut telah penuh, pelajarnya lantas menjawab "ya..."
Tanpa menjelaskan apa-apa kepada pelajarnya, profesor tersebut lantas mengambil pula sebuah kotak yang berisi pasir dan menuangkannya ke dalam balang tersebut.
Pasir yang dituang mengisi ruangan di antara batu kelikir dan bola golf. Seperti tadi dia bertanya lagi kepada para pelajarnya sama ada balang tersebut telah penuh. Dalam keadaan yang penuh persoalan, rata-rata pelajarnya menjawab "Ya.."
Sejurus selepas itu, profesor itu kemudiannya mengeluarkan dua cawan kopi dari bawah mejanya dan menuangkan kedua-duanya ke dalam balang yang telah sedia ada diisi batu golf, batu kerikil dan pasir tersebut. Air kopi mengisi ruangan yang terdapat di antara pasir. Para pelajar mula ketawa dan tersenyum meihat tindakan profesor tersebut.
"Sekarang..." profesor mula bersuara apabila riuh rendah dan gelak ketawa pelajarnya berkurangan.
"Saya mahu anda semua menganggap balang ini sebagai kehidupan anda... Bola-bola golf mewakili perkara penting - Tuhan, keluarga anda, anak-anak, kesihatan anda, kawan-kawan dan semangat anda - Jika anda kehilangan segalanya dan hanya perkara penting ini yang masih anda ada, hidup anda masih penuh. Batu kerikil halus ini pula mewakili perkara-perkara lain seperti kerja anda, rumah atau kereta anda, manakala pasir pula mewakili perkara-perkara lain, yakni perkara-perkara kecil."
"Jika anda memasukkan pasir ke dalam balang dahulu..." "... anda tidak akan mempunya ruang untuk batu kerikil dan bola golf. Ini sama juga seperti kehidupan anda. Jika anda menghabiskan masa dan tenaga untuk perkara-perkara kecil, anda tidak akan mempunyai ruang untuk perkara yang sebenarnya lebih penting untuk diri anda."
"Ambil perhatian untuk perkara yang kritikal untuk kebahagiaan anda. Luangkan masa gembira untuk anak-anak. Sentiasa melakukan pemeriksaan kesihatan, bawa pasangan anda untuk makan malam, yang pasti, anda akan masih ada masa untuk membersihkan rumah atau urusan lain. Sila ambil berat akan bola golf dahulu - iaitu perkara yang benar-benar penting. Tetapkan keutamaan. Perkara lain cumalah pasir..."
Salah seorang pelajarnya mengangkat tangan dan bertanya apakah pula yang diwakili oleh air kopi.
Profesor tersebut tersenyum. "Saya gembira ada yang bertanya. Ianya menunjukkan bahawa tidak kira bagaimana penuh pun kehidupan anda, akan sentiasa ada ruang untuk secawan dua kopi bersama rakan-rakan..."
Renungan untuk semua.
Apabila kehidupan anda seakan terlalu penuh dan tampak sukar untuk diuruskan, apabila 24 jam sehari seperti tidak mencukupi, ingatlah kisah Balang Mayonis dan 2 cawan kopi ini... "
|
|
|
| |
| Joke corner..part 1 |
| 07.03.06 (9:36 am) [edit] |
|
Duit seringgit telah bertemu dengan lima puluh ringgit dan bertanya: "Oit,lama tak nampak, mana ko pergi?" Lima puluh menjawab " aku pergi merata tempat. Pergi stadium tgk bola, naik STAR Cruise, gi KK naik AirAsia, lepak One Utama.. tempat2 cam tuh lah. Eh, ko camner lak?"
Duit seringit menjawab perlahan seraya menunduk, "hmm.. bosan.. balik-balik tempat sama.. surau, masjid, surau... ". Fikirkan dan tenung2kan.. 
|
|
|
| |
| Iman Sang Semut |
| 07.03.06 (9:30 am) [edit] |
|
Di zaman Nabi Allah Sulaiman berlaku satu peristiwa, apabila Nabi Allah Sulaiman nampak seekor semut melata di atas batu; lantas Nabi Allah Sulaiman merasa hairan bagaimana semut ini hendak hidup di atas batu yang kering di tengah-tengah padang pasir yang tandus. Nabi Allah Sulaiman pun bertanya kepada semut: " Wahai semut apakah engkau yakin ada makanan cukup untuk kamu".
Semut pun menjawab: "Rezeki di tangan ALLAH, aku percaya rezeki di tangan ALLAH, aku yakin di atas batu kering di pasir yang tandus ini ada rezeki untuk ku". Lantas Nabi Allah Sulaiman pun bertanya: " Wahai semut, berapa banyakkah engkau makan? Apakah yang engkau gemar makan? Dan banyak mana engkau makan dalam sebulan?"
Jawab semut: "Aku makan hanya sekadar sebiji gandum sebulan".
Nabi Allah Sulaiman pun mencadangkan: "Kalau kamu makan hanya sebiji gandum sebulan tak payah kamu melata di atas batu, aku boleh tolong".
Nabi Allah Sulaiman pun mengambil satu bekas, dia angkat semut itu dan dimasukkan ke dalam bekas; kemudian Nabi ambil gandum sebiji, dibubuh dalam bekas dan tutup bekas itu. Kemudian Nabi tinggal semut didalam bekas dengan sebiji gandum selama satu bulan.
Bila cukup satu bulan Nabi Allah Sulaiman lihat gandum sebiji tadi hanya dimakan setengah sahaja oleh semut, lantas Nabi Allah Sulaiman menemplak semut: "Kamu rupanya berbohong pada aku!. Bulan lalu kamu kata kamu makan sebiji gandum sebulan, ini sudah sebulan tapi kamu makan setengah".
Jawab semut: "Aku tidak berbohong, aku tidak berbohong, kalau aku ada di atas batu aku pasti makan apapun sehingga banyaknya sama seperti sebiji gandum sebulan, kerana makanan itu aku cari sendiri dan rezeki itu datangnya daripada Allah dan Allah tidak pernah lupa padaku. Tetapi bila kamu masukkan aku dalam bekas yang tertutup, rezeki aku bergantung pada kamu dan aku tak percaya kepada kamu, sebab itulah aku makan setengah sahaja supaya tahan dua bulan. Aku takut kamu lupa".
Itulah Iman Sang Semut!!
|
|
|
| |
|
|